Additional information
| Dimensions | 40 × 28 × 3 cm |
|---|---|
| Color |
Rp595.000
Rp595.000
Koleksi souvenir perusahaan dengan tema simfoni Wastra Batik Nusantara dan anyaman khas Flores yang semakin elegan. Hadir dalam dua variasi:
Varian Batik Navy menghadirkan tiga motif penuh filosofi: Megamendung dari Cirebon, yang melambangkan keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian; Parang Lereng dari Yogyakarta & Solo, yang merepresentasikan ketangguhan dan ikhtiar menuju kesejahteraan; serta Truntum dari Surakarta, yang melambangkan kemakmuran dan ikatan yang langgeng.
Varian Batik Black dengan koleksi yang terinspirasi dari semangat R.A. Kartini, koleksi ini menghadirkan perpaduan motif Batik Sulur Daun, Kawung, dan Truntum yang melambangkan pertumbuhan, keseimbangan, dan ketabahan. Kontras antara pola batik gelap dan motif terang merefleksikan perjalanan dari keterbatasan menuju perubahan.
Koleksi Batik ini mencerminkan komitmen Du Anyam dalam memberdayakan perempuan di berbagai wilayah pelosok Indonesia, dengan membuka kesempatan bagi mereka untuk berkembang dan menunjukkan potensinya.
Dikemas dalam hardbox eksklusif, koleksi ini menghadirkan Laptop Sleeve, ID Tag, dan Compact Wallet—souvenir bermakna budaya dan sosial untuk relasi bisnis yang berharga.
Panjang 40 cm x Lebar 28 cm x Tinggi 12 cm
Jaga anyaman agar tetap kering. Jangan simpan dalam kondisi lembab untuk mencegah produk berubah warna. Jika produk terkena air, bersihkan menggunakan kain yang lembut dan keringkan di bawah sinar matahari, hingga kering. Jangan mengisi dengan barang yang berat atau terlalu penuh yang dapat merubah bentuk anyaman. Jauhkan dari sumber api atau panas untuk jangka waktu yang lama
Menganyam, meski merupakan warisan budaya dan sudah menjadi kebiasaan lama masyarakat Flores setempat, sebagian besar produknya hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga saja. Demikian pula yang terjadi di Kalimantan, Papua, dan banyak daerah di Indonesia, tradisi menganyam sudah ada sejak puluhan tahun lamanya namun kurang dilestarikan. Seni kerajinan tangan yang sekarat ini telah tergantikan oleh aktivitas-aktivitas lain yang dianggap lebih bernilai dan lebih praktis.
Saat Du Anyam memulai perjalanan untuk mengadvokasi pemberdayaan perempuan, kami telah menemukan dan berhubungan kembali dengan berbagai warisan Nusantara. Melalui beberapa strategi promosi kebudayaan seperti pengadaan kurikulum pelajaran menganyam untuk siswa SMA dan pelatihan menganyam sepanjang tahun, kami berharap untuk tidak hanya melestarikan saja, tapi juga menghidupkan kembali seni Indonesia yang sungguh tak ternilai harganya ini.