fbpx Merchandise Asian Games 2018 Karya Du Anyam Terjual 16.000 Buah

Du Anyam Menjual 16 Ribu Produk Anyaman di Asian Games 2018 [Tabloid Bintang]

Posted by Januari 28, 2020
Thumbnail
As featured on Tabloid Bintang, 23 September 2018

Laporan panitia Asian Games 2018 per 2 September menyebut produk Du Anyam yang paling cepat habis yakni tas ramah lingkungan. Produk lain yang juga dicari, kipas dan label koper. Bisa jadi, merchandise karya Du Anyam di Asian Games 2018 laris manis karena desainnya unik dan harganya miring.

“Harga kami sangat terjangkau. Pembatas buku kami jual mulai 20 ribu rupiah. Yang paling mahal kover agenda 175 ribu rupiah,” ujar Azalea seraya menambahkan, pembeli dari luar negeri jatuh cinta pada anyaman daun lontar yang menjadi ciri khas Du Anyam. Pertanyaan yang sering diajukan pembeli, mengapa harus anyaman daun lontar? Azalea menjelaskan, anyaman daun lontar merupakan tradisi turun temurun di Kabupaten Lembata, NTT.

“Dulu, perempuan dibilang siap menikah jika menguasai 3 hal: memasak, menenun, dan membuat anyaman daun lontar. Seiring perkembangan zaman, kebiasaan menganyam mulai ditinggalkan. Padahal, jika ditekuni bisa menghasilkan uang tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. NTT kami pilih karena provinsi ini memiliki problem gizi, kesehatan, dan kesejahteraan tertinggi ketiga di Indonesia,” sambung dia.

Ndilalah, Hanna pernah bekerja di lembaga swadaya masyarakat di Flores. Ia tahu persis kondisi masyarakat NTT dan seberapa berat medannya. Tantangan terbesar selama mengembangkan bisnis ini, menyajikan ide menjual anyaman kepada para ibu di sana. Mereka enggan bekerja sama dengan Du Anyam jika hanya berbekal mimpi dapat uang banyak tanpa bukti nyata.

Sebagai langkah awal, Azalea dan kawan-kawan membeli produk anyaman para ibu sambil mencari konsumen. Setelah melihat keseriusan Azalea-Melia-Hanna, mereka mau menganyam lagi dan lagi. Pada 2014, Du Anyam menggandeng 10 ibu dari Desa Dun Tana.

“Dari 10 ibu di satu desa, kini kami merangkul 500 penganyam dari 30 desa di kabupaten Lembata NTT, Kabupaten Nabire Papua, dan Berau, Kalimantan Timur. Pada 2014, kami hanya menjual 300 produk per bulan. Kini kami menjual 24 ribu produk dalam setahun,” Azalea bercerita.

Atas pencapaian ini, Du Anyam meraih banyak penghargaan salah satunya, Social Enterprise Grant Programme dari DBS Asia.

(wyn / gur)